JAKARTA, GANLOP.COM – Re-See French Designers merupakan bagian dari rangkaian JF3 Fashion Festival 2026. Sesi dari parade show bertema “Les Échos: Craft Across Cultures” ini menghadirkan koleksi dari 30%70, Rohan Mirza, Louise Marcaud, dan TAREET x DENIMITUP, serta desainer program PINTU Residents, yaitu Beatrice Angelica x Mickaël Nana serta Lisa Rayar x Gabriel Marcella. Sesi ini memberikan kesempatan untuk melihat lebih detail semua koleksi para desainer.

Diantara koleksi, koleksi kolaborasi desainer Prancis Indonesia dalam program PINTU Residents menjadi koleksi yang sangat menarik. Mereka adalah Mickael Nana dan Beatrice Angelica mempersembahkan koleksi GARUDA dan Lisa Rayar dan Gabriel Marcella hadirkan koleksi Au Large.
GARUDA – Mickael Nana dan Beatrice Angelica
GARUDA adalah koleksi kolaborasi yang dikembangkan oleh desainer Indonesia, Beatrice Angelica, pendiri NOEN, dan desainer Perancis Michael ‘Marlon’ Nana, pendiri Marlon Nana.

Terinspirasi oleh lambang nasional Indonesia, GARUDA melambangkan kekuatan, perlindungan, dan keterbukaan sekaligus mewujudkan identitas kreatif bersama. Melalui koleksi ini, Mickael dan Beatrice mewujudkan perpaduan ini dengan merayakan jargon Bhinneka Tunggal Ika (persatuan dalam keberagaman).

Koleksi ini mengeksplorasi perpaduan antara warisan tekstil Indonesia dan penjahitan Barat. Kedua desainer menunjukkan bagaimana tradisi yang berbeda dapat hidup berdampingan dan saling memperkaya, menciptakan lemari pakaian kontemporer yang berakar pada rasa hormat, pertukaran, dan inovasi.

Terinspirasi oleh foto-foto arsip dari akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 di Indonesia yang mengungkap tradisi busana lokal dan pengaruh Eropa hidup berdampingan secara alami, kedua desainer menggunakan teknik draping tradisional, siluet yang dililit, dan tekstil buatan tangan ditafsirkan ulang melalui lensa kontemporer.

Inspirasi tambahan datang dari para seniman seperti Lenny Kravitz, Erykah Badu, dan Lauryn Hill, yang gaya pribadinya menggabungkan kode-kode Barat dengan warisan budaya.
Penjahitan Eropa dari tahun 1970-an dan 1980-an memberikan struktur arsitektural pada pakaian, sementara keahlian Indonesia menghadirkan fluiditas dan kedalaman budaya. Dengan kata lain, GARUDA merayakan mode sebagai bahasa dialog di mana warisan berkembang tanpa kehilangan identitasnya.

Kolaborasi ini terdiri dari 10 looks, menghadirkan potongan yang tegas dengan bahu lebar, jaket berstruktur, dan celana panjang berpotongan lebar diimbangi oleh pakaian berpotongan longgar yang terinspirasi oleh tradisi busana Indonesia.
Tiga tekstil tenun tangan eksklusif dikembangkan bersama para perajin wanita Lombok menggunakan teknik tradisional. Kain ditenun dari katun dengan pewarna alami, menampilkan motif Garuda khusus yang diperindah dengan sulaman beludru.
Kain-kain untuk menjahit, denim, beludru, tekstil tenun, dan pakaian luar teknis digabungkan untuk menciptakan tekstur yang kaya, siluet yang berstruktur, dan interpretasi kontemporer dari kerajinan tradisional.
Karya mereka melibatkan para perajin lokal dan pelestarian teknik tenun tradisional. Koleksi ini mendukung kerajinan tangan Indonesia dengan mengembangkan tekstil eksklusif yang ditenun dengan tangan di Lombok menggunakan pewarna alami, mendorong pewarisan pengetahuan leluhur sekaligus menciptakan peluang baru bagi komunitas perajin.
Proyek ini juga melibatkan perajin yang berbasis di Jakarta yang ahli dalam pembuatan manik-manik dan kerajinan rantai besi, termasuk Lului Studio. Lidya Yuniaty Nainggolan, yang menciptakan potongan-potongan rantai manik-manik, dan Zab’a Craft oleh Chici Fitria, yang memproduksi jaket rajut.

Au Large, Lisa Rayar dan Gabriel Marcella
Sementara itu di Mojokerto, Jawa Timur, desainer Prancis Lisa Rayar dan Gabriel Marcella, perancang busana Indonesia, mengembangkan koleksi Au Large. Terinspirasi oleh tradisi maritim Prancis dan budaya pesisir Jawa, koleksi ini mempertemukan batik, struktur tailoring, dan referensi seragam dalam siluet kontemporer.

Yang menjadikan koleksi ini terasa spesial, kedua desainer berhasil mengungkap bahasa maritim bersama yang telah terbentuk melalui gerak-gerik, keahlian kerajinan, dan ikatan yang mendalam dengan laut. Memiliki makna ‘lepas pantai’ dalam bahasa Prancis, Au Large mengeksplorasi hubungan antara tradisi maritim Prancis dan Indonesia.

Hadirkan 12 tampilan yang memadukan ciri khas pakaian kerja maritim Prancis dengan keahlian kerajinan tekstil Indonesia, koleksi mewujud pada pakaian terstruktur berpadu dengan draperi yang mengalir dan siluet oversized, menciptakan busana yang berada di antara perlindungan, fungsionalitas, dan keanggunan.

Tali-tali menjadi elemen desain struktural, kain yang terdraperi mengingatkan pada layar yang terbawa angin, sementara konstruksi berlapis-lapis mengingatkan pada jaring ikan dan perlengkapan maritim.

Palet bahan memadukan batik buatan tangan, denim, katun, kain teknis ringan, rajutan rib, kain jas bergaris, jaring bersulam dengan motif terinspirasi batik yang menafsirkan ulang tato simbolis para pelaut Prancis, tekstil keemasan berkilau yang terinspirasi oleh pantulan matahari terbenam di laut, serta kain transparan berwarna-warni dalam nuansa biru yang menangkap gerakan dan kedalaman lautan.

Salah satu inovasi utama koleksi ini adalah penciptaan motif batik orisinal, yang dikembangkan secara khusus untuk proyek ini dengan menggabungkan motif kotak-kotak/sarung yang terinspirasi tartan Indonesia dengan garis-garis maritim Prancis yang ikonik melalui teknik sablon batik yang inovatif.
Pola baru ini mencerminkan perpaduan dua identitas tekstil sekaligus mempertahankan keaslian keahlian kerajinan batik.

Sepanjang proses desain, perhatian khusus diberikan pada efisiensi penggunaan kain, memanfaatkan sisa potongan kain untuk pakaian tambahan dan detail desain, sehingga mengurangi limbah dan mendorong penggunaan bahan yang lebih bertanggung jawab.






Comment