GANLOP.COM – Pada perhelatan tahun keempatnya yang berlangsung pada 6–8 Agustus 2026, gerakan Bakti Indonesia hadir di Kelenteng Agung Sam Poo Kong, Semarang, sebuah situs bersejarah yang melambangkan penghormatan atas keberagaman sejak era Laksamana Cheng Ho.
“Bagi kami, Kelenteng Agung Sam Poo Kong bukan hanya situs sejarah, melainkan metafora Indonesia. Di sini kita belajar bahwa manusia boleh berbeda keyakinan, tetapi tetap bertemu dalam kebaikan,” ujar Dra. Hj. Mulia Jayaputri, MPA, Psikolog, penggagas Bakti Indonesia dari gerakan Bakti Nusantara.
Memasuki hari kedua perhelatan (7 Agustus 2026), antusiasme masyarakat kian memuncak. Sekitar 5.000 warga setempat diperkirakan memperoleh manfaat langsung melalui berbagai layanan gratis. Di bidang kesehatan, ratusan tenaga medis mengerahkan pemeriksaan darah, rekam jantung, mata, gigi, tes laboratorium, deteksi kanker, hingga pembagian ribuan paket vitamin
Sementara di bidang psikologi, pakar dari Universitas Jayabaya dan Universitas Padjadjaran memberikan konsultasi bagi keluarga maupun perorangan. Kegiatan ini turut dilengkapi dengan seminar kesehatan dan finansial keluarga, talkshow edukatif, serta bazaar UMKM setempat. Di balik deretan pelayanan tersebut, lahir kisah-kisah menyentuh tentang para lansia yang merasa didengar hingga keluarga yang kembali menemukan harapan.
Penyelenggaraan yang berkesinambungan ini menumbuhkan perkembangan makna: dari kolaborasi lintas agama menjadi sinergi seluruh elemen masyarakat.

Menurut Ketua Pelaksana Bakti Indonesia ke-4, Jovita Navy Setyawati maraknya dukungan lintas sektor menjadi pertanda gembira bahwa merawat keberagaman telah menjadi ikhtiar bersama.
Mulia Jayaputri, penerima anugerah Adhi Karya Wisata dan Women of the Year 2024 yang juga membawa restoran Bungarampai meraih Restaurant Culinary Excellence 2025/2026, menambahkan bahwa kepedulian yang lahir tanpa memandang identitas menunjukkan wajah terbaik Indonesia.
Keberhasilan gerakan ini terwujud berkat sinergi dari Siloam International (LIPPO Group), Pertamina Hulu Energi, Bank Mandiri, dan Yayasan Rafi dan Ramy sebagai pendukung utama. Dukungan tersebut diperkuat oleh mitra korporasi seperti Zantob, Dulux, dan Indofood; mitra pemerintah dan lembaga seperti BAZNAS dan Dinsos Pemprov Jateng; serta mitra kesehatan dan komunitas perempuan seperti Yayasan Kanker Indonesia, RSUP Dr. Kariadi, RS Telogorejo, PPLIPI, Sahabat Lestari, Sahabat Kartini, Perempuan Laju Perkasa, dan Amira.
Bagi penyelenggara, ukuran keberhasilan tertinggi bukanlah jumlah peserta, melainkan ketika masyarakat percaya bahwa ruang ibadah dapat menjadi ruang perjumpaan kemanusiaan di tengah perbedaan. “Ucapan terima kasih terdalam kepada seluruh donatur dan pendukung acara. Terima kasih khusus kepada Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, yang menjadi pendorong terciptanya gagasan Bakti Indonesia sejak awal mula derma ini diselenggarakan,” tutup Mulia Jayaputri.
1. Pentingnya Donor Darah dan Panduan Pemeriksaan Tensi Akurat
Membuka rangkaian seminar hari kedua, dr. Like Rahayu Nindhita, Sp.PK dari Unit Pengelola Darah RSUP dr. Kariadi membawakan materi bertajuk “Setetes Darah Sejuta Harapan”. dr. Like menekankan bahwa ketersediaan darah yang aman dan memadai merupakan tumpuan hidup bagi banyak pasien, mulai dari penderita kanker, thalasemia, hingga pasien yang menjalani perawatan gagal ginjal. Ia memaparkan kriteria utama pendonor, seperti usia 17–60 tahun, berat badan minimal 45 kg, kadar hemoglobin (Hb) normal di angka 12,5–17 g/dL, serta kondisi tekanan darah yang stabil. Calon pendonor juga disarankan untuk beristirahat cukup minimal 4 jam, mengonsumsi makanan kaya zat besi, dan memenuhi asupan air putih sebelum mendonasikan darahnya.

Selain mengupas syarat donor darah, dr. Like secara khusus membagikan panduan teknis mengenai cara mengukur tekanan darah (tensi) yang akurat untuk deteksi dini hipertensi. Menurutnya, faktor stres, aktivitas fisik, dan persiapan tubuh sangat memengaruhi hasil pengukuran. Pasien diimbau untuk duduk rileks selama 5 menit dan mengosongkan kandung kemih sebelum ditensi. Selain itu, pemicu lonjakan tekanan darah sementara, seperti olahraga berat, merokok, dan konsumsi kopi, harus dihindari setidaknya 30 menit sebelum pemeriksaan.
Lebih lanjut, dr. Like menjelaskan prosedur teknis yang sering kali diabaikan masyarakat saat memeriksa tekanan darah secara mandiri maupun di fasilitas kesehatan. “Lengan baju harus digulung agar manset tensimeter menempel langsung pada kulit, bukan di atas kain. Posisikan lengan sejajar dengan jantung, dan pastikan duduk bersandar dengan kaki menapak rata di lantai tanpa menyilangkannya. Untuk mendapatkan angka yang paling andal (reliable), terutama saat skrining awal, lakukan pengukuran sebanyak tiga kali dengan jeda 1–2 menit, lalu ambil nilai rata-ratanya,” terang dr. Like.
2. Mengupas Beban Kasus dan Tantangan Penanganan TBC di Indonesia
Sesi seminar kedua menyoroti ancaman penyakit menular Tuberkulosis (TBC). Indonesia saat ini menempati peringkat kedua di dunia dengan beban kasus TBC tertinggi, di mana diperkirakan terdapat 1.080.000 kasus baru dan sekitar 125.000 kematian setiap tahunnya atau setara dengan 14 kematian per jam. Seminar ini menegaskan pentingnya deteksi dini tanpa memberikan stigma negatif kepada penderita. Batuk yang patut dicurigai sebagai TBC adalah batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu dan tidak kunjung membaik meski telah diobati dengan obat batuk atau antibiotik biasa, yang umumnya disertai demam, tubuh mudah lelah, penurunan nafsu makan, dan penurunan berat badan secara drastis.

Dalam pemaparannya, dr. Martha Ratnawati Bumiwana Sp.P dari RS Telogorejo, Semarang menjelaskan, “Penularan TBC utama terjadi melalui udara dari pasien TB Paru aktif. Namun, kuman Mycobacterium tuberculosis memiliki karakteristik unik di mana kuman tidak langsung menimbulkan sakit dalam hitungan hari, melainkan membutuhkan jeda masa inkubasi sekitar 1,5 hingga 2 bulan.”
“Bahkan dari seluruh orang yang terpapar kuman TBC, hanya sekitar 5 persen yang berkembang menjadi sakit TBC aktif, sementara sisanya berada dalam kondisi dormant (tertidur) di dalam tubuh selama berpuluh-puluh tahun tanpa menunjukkan gejala,” ujarnya menambahkan.
Tantangan terbesar dalam penanganan TBC terletak pada durasi dan kepatuhan pengobatannya. TBC dibedakan menjadi TB Paru dan TB Ekstra Paru (seperti TB Kelenjar yang menyebar melalui aliran darah). “Pengobatan TB Paru memerlukan waktu minimal 6 bulan dengan evaluasi klinis dan rontgen yang berkala. Sementara untuk TB Kelenjar, masa pengobatannya jauh lebih lama, yaitu 9 hingga 12 bulan. Karena evaluasi fisik pada TB Kelenjar cukup sulit setelah benjolan dioperasi, kunci utama kesembuhan total dan pencegahan kekebalan obat adalah kepatuhan pasien dalam menyelesaikan seluruh paket pengobatan tanpa terputus,” ungkap dr. Martha menambahkan.

3. Cerdas Mengelola Keuangan Keluarga di Era Konsumtif
Rangkaian seminar hari kedua ditutup dengan sesi edukasi finansial bersama Tim Bank Danamon bertajuk “Menjaga Kesehatan Finansial di Tengah Era Konsumtif”. Sesi ini memberikan kesadaran kritis bagi warga Semarang dalam menghadapi dinamika ekonomi harian serta maraknya budaya konsumtif. Narasumber mengingatkan bahwa peningkatan pendapatan atau omset usaha sering kali tidak berbanding lurus dengan sisa tabungan apabila tidak diimbangi dengan kontrol diri yang baik. Prinsip klasik “lebih besar pasak daripada tiang” dinilai masih sangat relevan untuk dievaluasi oleh setiap keluarga modern saat ini.
Guna menjaga stabilitas arus kas (cash flow), narasumber Bank Danamon membagikan metode practical dalam mengevaluasi setiap rencana pengeluaran. Masyarakat diajak untuk membiasakan diri berpikir rasional sebelum bertransaksi dengan mengajukan pertanyaan mendasar: “Apakah ini kebutuhan nyata atau sekadar keinginan?” Jika sekadar keinginan, pembelanjaan sebaiknya ditunda. Namun jika memang kebutuhan, langkah berikutnya adalah memastikan ketersediaan dana tanpa mengganggu pos anggaran inti, di mana skema pembelian secara mencicil hanya direkomendasikan apabila nilai angsurannya benar-benar aman dan terukur sesuai kapasitas finansial harian.
Sebagai solusi konkret untuk mencegah kebocoran anggaran, Bank Danamon mendorong masyarakat menerapkan manajemen rekening terpisah. Narasumber menyarankan pembagian alokasi ke dalam beberapa akun tabungan khusus, seperti rekening operasional harian, rekening kebutuhan anak, serta rekening tabungan rencana jangka panjang untuk persiapan pendidikan anak atau target finansial dalam kurun waktu 3 hingga 6 tahun ke depan. Melalui perencanaan terstruktur ini, masyarakat diharapkan mampu mengendalikan fenomena inflasi gaya hidup (lifestyle inflation), sehingga kenaikan gaji atau hasil usaha dapat dikonversi menjadi aset yang produktif.






Comment