by

Museum Bahari Ajak Publik Mendengar Cerita Perempuan Muara Angke Lewat Suara dari Muara

GANLOP.COM – Museum Bahari mengundang publik untuk mendengar Suara dari Muara, sebuah pameran yang menghadirkan kisah-kisah perempuan Muara Angke melalui gambar-gambar yang mereka ambil sendiri. Berlangsung hingga 31 Juli 2026, Suara dari Muara mengajak masyarakat untuk melihat kembali hubungan Jakarta dengan laut melalui cerita komunitas pesisir yang selama ini menjadi bagian penting dari identitas kota.

Dikembangkan melalui kolaborasi antara Georgetown University School of Foreign Service in Asia-Pacific (GSAP), Museum Bahari, Yayasan Riset Visual Mata Waktu, Institut Kesenian Jakarta (IKJ), dan Climate Reality Indonesia, Suara dari Muara memadukan cerita, fotografi, dan instalasi seni dalam sebuah pengalaman yang mengajak pengunjung untuk memahami kehidupan masyarakat pesisir Jakarta.

Melalui metode Photovoice, sebanyak 20 perempuan Muara Angke menggunakan fotografi untuk mendokumentasikan kehidupan dan pengalaman mereka sendiri yang jarang terlihat oleh publik—mulai dari aktivitas di kampung nelayan, peran perempuan dalam menopang keluarga, hubungan dengan laut, hingga harapan mereka bagi masa depan komunitas pesisir. Bersama-sama, mereka menyusun narasi yang merepresentasikan keseharian, tantangan, serta harapan terhadap masa depan komunitas pesisir Jakarta.

Menurut metode Photovoice membuka ruang bagi komunitas untuk menyampaikan pengalaman hidup mereka secara autentik. Gunawan Widjaja, Kurator Suara dari Muara (Yayasan Riset Visual mataWaktu)

“Ketika masyarakat diberikan ruang untuk merekam dan menceritakan kehidupannya sendiri, yang lahir bukan sekadar dokumentasi visual, melainkan pengalaman yang mampu membangun empati. Suara dari Muara mengajak kita mendengar cerita langsung dari mereka yang menjalaninya setiap hari.”

Sebagai tuan rumah, Museum Bahari sangat senang bahwa Suara dari Muara dapat pulang ke rumah. Kegiatan ini diharapkan dapat memperluas pemahaman publik mengenai warisan maritim Jakarta yang tidak hanya berbicara tentang sejarah, tetapi juga tentang masyarakat yang hingga hari ini hidup dan bergantung pada laut.

“Museum Bahari ingin menjadi ruang yang mempertemukan masyarakat dengan cerita-cerita yang hidup di sekitar pesisir Jakarta. Melalui Suara dari Muara, kami mengajak pengunjung untuk datang, mendengar, dan memahami pengalaman perempuan Muara Angke sebagai bagian dari warisan maritim yang terus hidup hingga hari ini,” ujar Misari selaku Kepala Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta.

Selain kisah-kisah yang dibangun melalui Photovoice, pengunjung juga dapat menikmati instalasi seni yang dibuat oleh dosen Institut Kesenian Jakarta (IKJ) menggunakan cangkang kerang hijau dari Muara Angke. Material tersebut diolah menjadi karya yang merefleksikan kreativitas masyarakat pesisir sekaligus hubungan mereka dengan lingkungan di sekitarnya. Pengalaman ini juga diperkaya dengan dokumentasi visual dari Climate Reality Indonesia yang memberikan konteks yang lebih luas mengenai kehidupan di wilayah pesisir.

Momen pembukaan Suara dari Muara dirayakan melalui Pesta Rakyat, menghadirkan suasana khas kampung pesisir melalui jajanan tradisional, pertunjukan seni, dan berbagai aktivitas kebersamaan yang mempertemukan warga Muara Angke dengan masyarakat Jakarta.

“Pesta Rakyat ini bukan hanya selebrasi pembukaan pameran, tapi juga perayaan dari dan untuk masyarakat pesisir Jakarta yang sudah terlalu lama suaranya tidak didengar. Ketika kami mulai merancang proyek ini, kami tidak tahu sama sekali seperti apa hasilnya. Namun, para ibu-ibu Muara Angke telah menunjukkan kegigihan dan semangat yang luar biasa. Hari ini merupakan hari mereka,” ujar Prof. Elle Wibisono, Technical Director and Research Fellow at the Blue Lab (Georgetown SFS Asia Pacific).

Salah satu peserta dari Muara Angke, Ibu Nurweni,yang juga merupakan Ketua LMK (Lembaga Musyawarah Kelurahan) berharap pengalaman ini dapat membantu masyarakat mengenal kehidupan perempuan pesisir dengan lebih dekat.

“Kami berharap melalui karya-karya ini, masyarakat dapat melihat kehidupan kami apa adanya. Di balik hasil laut yang mereka nikmati setiap hari, ada perjuangan, ketidakpastian, dan kerja keras yang sering kali tidak terlihat. Kami ingin suara dan pengalaman kami juga didengar.”

Suara dari Muara dapat dikunjungi di Museum Bahari mulai 4 hingga 31 Juli 2026. Pengunjung tidak hanya akan menemukan rangkaian foto dan karya seni, tetapi juga diajak mendengar suara-suara yang lahir dari pengalaman nyata perempuan Muara Angke, sebuah pengingat bahwa kehidupan pesisir merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan Jakarta.

 

 

 

 

 

 

 

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *