by

Perkuat Literasi Kesehatan Masyarakat, MSD Indonesia Ajak Pahami HPV pada Anak Laki-Laki

JAKARTA, GANLOP.COM – Dalam upaya memperkuat literasi kesehatan masyarakat, MSD Indonesia didukung oleh Kementerian Kesehatan RI kembali menyelenggarakan Kelas Jurnalis 2026 bertajuk “Memahami HPV pada Anak Laki-Laki: Meningkatkan Kesadaran Kesehatan Generasi Masa Depan”. Kegiatan ini menyoroti fakta medis bahwa infeksi Human Papillomavirus (HPV) tidak hanya mengancam perempuan, tetapi juga memberikan beban kesehatan yang signifikan bagi laki-laki, sehingga pendekatan pencegahan yang inklusif dan komprehensif menjadi semakin krusial.

Selama ini, pemahaman publik mengenai risiko HPV masih terbatas pada dampaknya terhadap kesehatan perempuan – infeksi HPV risiko tinggi terkait pada hampir semua kasus kanker leher rahim (99%) . Padahal, fakta medis menunjukkan bahwa ancaman virus ini juga nyata bagi kesehatan laki-laki. Data global mencatat bahwa hampir 1 dari 3 pria berusia di atas 15 tahun telah terinfeksi setidaknya satu jenis virus HPV. Lebih dari sekadar menjadi pembawa virus, laki-laki juga menanggung beban penyakit yang signifikan dengan berkontribusi pada sekitar 40% seluruh kasus kanker terkait HPV di dunia,2 termasuk kanker tenggorokan, anus, dan penis yang prevalensinya terus menunjukkan tren peningkatan.

Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan RI, dr. Andi Saguni, M.A, menyampaikan “Sejak lama, narasi seputar Human Papillomavirus di masyarakat terbatas pada perempuan, khususnya terkait kanker serviks. Hal ini tidak sepenuhnya salah, dengan kondisi kanker serviks masih menjadi beban kesehatan yang besar di Indonesia. Meski demikian, realitanya HPV tidak mengenal gender. Sejak mengintegrasikan imunisasi HPV dalam program BIAS, data kami di 2025 menunjukkan bahwa pada anak perempuan, program ini telah mencapai cakupan 91.1% – melampaui target. Meskipun keberhasilan ini merupakan fondasi yang vital, namun pekerjaan kita belum selesai. Fokus kami saat ini adalah memperluas literasi publik sehingga masyarakat memahami bahwa imunisasi merupakan investasi kesehatan untuk seluruh anak – baik laki-laki maupun perempuan.”

Fakta medis menunjukkan bahwa infeksi HPV bersifat tidak spesifik pada satu gender. Menekankan pentingnya peningkatan pemahaman masyarakat secara menyeluruh mengenai HPV, Managing Director MSD Indonesia, George Stylianou menegaskan, “Melalui prinsip Health Equity, kami berkomitmen untuk mendorong perlindungan yang lebih inklusif sehingga tidak ada anak yang tertinggal dalam mendapatkan proteksi.”

Memperdalam aspek klinis, Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin (PERDOSKI), Dr. dr. Hanny Nilasari, Sp.DVE, Subsp. Ven., menjelaskan adanya beban tersembunyi (hidden burden) HPV pada laki-laki yang kerap luput dari perhatian. “Di luar kanker leher rahim pada perempuan, infeksi HPV juga dapat menyebabkan kutil kelamin, pre-kanker, kanker penis, hingga kanker orofaring pada laki-laki. Selain itu, fakta medis menunjukkan bahwa laki-laki biasanya tidak membangun kekebalan alami yang kuat setelah terinfeksi HPV, sehingga risiko infeksi persisten menjadi lebih besar. ”

Secara global, beban penyakit HPV pada laki‑laki juga terlihat dari risiko kanker orofaring yang tercatat hingga empat kali lebih tinggi pada laki‑laki dibandingkan perempuan. Berbeda dengan kanker leher rahim yang memiliki program skrining rutin, kanker orofaring belum memiliki mekanisme skrining populasi , sehingga deteksi dini sering terlambat dilakukan. Kondisi ini semakin menegaskan pentingnya pencegahan sejak dini tidak hanya bagi perempuan, tetapi juga bagi laki‑laki.

“Karena tidak tersedia tes deteksi dini bagi laki-laki, perlindungan sejak usia dini menjadi langkah yang paling efektif untuk mencegah virus HPV. Dengan melindungi diri, laki-laki tidak hanya menjaga kesehatannya sendiri, tetapi juga berperan aktif dalam memutus rantai transmisi HPV kepada pasangan dan masyarakat luas.” ungkap dr. Hanny.

Dari perspektif kesehatan anak, Ketua Satuan Tugas (Satgas) Imunisasi Anak IDAI, Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, SpA (K), menggarisbawahi pentingnya pencegahan sejak dini. “Sistem imun anak merespons paling kuat pada usia 9-13 tahun, sehingga efektivitas pencegahan maksimal diraih jika dimulai pada periode ini, sebelum mereka terpapar risiko di masa dewasa. Memberikan imunisasi HPV pada anak usia sekolah dasar adalah langkah optimal untuk memperoleh respons imun maksimal.”

Prof. Hartono juga menekankan bahwa pencegahan secara holistik diperlukan guna memberikan perlindungan yang maksimal. “Pencegahan holistik mencakup pemeriksaan kesehatan rutin, menjaga kebersihan, dan edukasi kesehatan yang sesuai usia untuk membangun kebiasaan hidup sehat seumur hidup. Imunisasi HPV bagi anak-anak adalah bentuk kesetaraan hak kesehatan agar mereka terlindungi dari penyakit yang dapat dicegah (PD3I) di masa depan. Jangan biarkan stigma menghalangi perlindungan medis yang fundamental ini.”

“Forum ini diharapkan dapat memperluas edukasi dan pemahaman masyarakat terhadap pentingnya perlindungan terhadap infeksi hpv, bukan hanya bagi anak perempuan tetapi juga anak laki-laki, sehingga demikian, setiap anak Indonesia mendapatkan hak perlindungan kesehatan yang inklusif demi masa depan yang bebas dari ancaman kanker terkait HPV,” tutup George.

 

 

 

 

 

 

 

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *