by

BKGN 2026 Edukasi Pentingnya Keseimbangan Microbiome Mulut sebagai Perlindungan Ekstra bagi Kesehatan Gigi dan Mulut

GANLOP.COM – Unilever Indonesia melalui Pepsodent kembali menggelar Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN), program yang terlaksana sejak 2010 bersama Persatuan Dokter Gigi Indonesia, Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia, dan Asosiasi Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Indonesia sebagai gerakan berkelanjutan untuk memperluas akses edukasi dan pelayanan kesehatan gigi dan mulut.

Tahun ini BKGN 2026 berfokus mengedepankan pentingnya menjaga keseimbangan microbiome mulut dan diresmikan melalui kegiatan edukasi serta pemeriksaan gigi bagi siswa-siswi SDN Menteng 01 Jakarta. Selanjutnya, program ini akan digelar selama Oktober – Desember 2026 di Fakultas Kedokteran Gigi dan Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan di berbagai wilayah Indonesia.

BKGN merupakan cikal bakal dari peringatan Hari Kesehatan Gigi Nasional (HKGN) yang diperingati setiap 12 September. Tahun ini, HKGN 2026 mengangkat tema “Gigi Kuat, Senyum Sehat, Indonesia Hebat”, dengan subtema “Periksa, Tindaklanjuti, Jaga Kesehatan Gigi dan Mulut”.

Hadir dalam acara peresmian BKGN 2026, Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD., Ph.D., Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia menyatakan, “Pada kesempatan ini, saya ingin menyampaikan dua berita, berita baik dan berita kurang baik. Berita baiknya, pemeriksaan gigi sudah masuk ke dalam program Cek Kesehatan Gratis, dan pemeriksaan ini harus diikuti oleh semua anak sekolah. Lalu berita kurang baiknya, dari hasil pemeriksaan, 4 dari 10 anak Indonesia yang ada di sekolah giginya berlubang. Ini tentunya akan mengganggu aktivitas sehari-hari anak.

Tidak melulu lewat Cek Kesehatan Gratis, waktu untuk memeriksakan gigi yang baik adalah bukan ketika kita menderita sakit gigi, tetapi sebaiknya dilakukan secara rutin setiap enam bulan. Maka saya minta, karena di sekolah ada UKS, anak-anak yang bertugas di UKS ini bisa menjadi ‘detektif gigi berlubang’ supaya mereka dapat membantu mengenali tanda-tanda gigi bermasalah pada teman-temannya.”

“Jadi nanti semua sekolah bisa rutin dilakukan pemeriksaan gigi – baik oleh Kementerian Kesehatan, Suku Dinas Kesehatan, maupun oleh anak-anak itu sendiri. Semoga dengan upaya-upaya tersebut kesehatan gigi masa depan lebih baik, karena masalah gigi bukan hanya masalah kesehatan di dalam mulut saja, tapi juga berkaitan dengan kesehatan tubuh secara keseluruhan, contohnya ada penyakit di katup jantung yang disebabkan oleh kuman Streptococcus beta-hemolyticus grup A yang ada di dalam gigi berlubang. Akhirnya, saya harap Bulan Kesehatan Gigi Nasional bisa menjadi momentum bagi kita untuk lebih peduli terhadap kesehatan gigi. Mudah-mudahan kita bisa melahirkan generasi-generasi hebat yang kesehatannya terjaga mulai dari sekarang, salah satunya melalui upaya menjaga kesehatan gigi mereka,“ lanjut Prof. Dante.

drg. Ratu Mirah Afifah, GCClinDent., MDSc., Personal Care Community Lead Unilever Indonesia menyampaikan, “Semangat HKGN 2026 sangat sejalan dengan misi dari BKGN, di mana setiap tahunnya kami memberikan akses edukasi, pemeriksaan dan perawatan gigi gratis secara berkelanjutan bagi masyarakat. Lebih dari itu, selama 17 kali pelaksanaannya, BKGN terus berkembang mengikuti dinamika kebutuhan masyarakat dan perkembangan sains terkini. Di BKGN 2026, kami ingin mengangkat paradigma baru mengenai pentingnya perlindungan ekstra dalam merawat kesehatan gigi dan mulut, yaitu dengan menjaga keseimbangan microbiome mulut sebagai awal dari kesehatan gigi dan mulut secara menyeluruh. Hal ini menjadi semakin relevan di tengah perubahan gaya hidup masyarakat serta masih banyaknya mispersepsi tentang kondisi gigi dan mulut yang sehat, yang akhirnya menempatkan masyarakat pada posisi yang lebih rentan untuk mengalami berbagai permasalahan gigi dan mulut.”

Prof. drg. Suryono, S.H., M.M., Ph.D., Ketua Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia (AFDOKGI) menerangkan lebih lanjut, “Rongga mulut merupakan komunitas mikroba terbesar kedua dalam tubuh manusia dan memiliki ekosistem yang dihuni oleh lebih dari 700 spesies mikroorganisme yang disebut sebagai microbiome mulut. Layaknya pada usus, microbiome mulut terdiri dari bakteri baik dan bakteri yang berpotensi merugikan. Maka, seiring berkembangnya ilmu kesehatan gigi dan mulut, tujuan perawatan yang lebih tepat bukanlah menghilangkan sebanyak mungkin bakteri, melainkan menjaga keseimbangan microbiome mulut. Karena ketika keseimbangannya terganggu atau mengalami dysbiosis, bakteri merugikan dapat berkembang lebih dominan dan memicu berbagai permasalahan gigi dan mulut.”

Masalah tersebut misalnya seperti pembentukan plak. Ketika plak terus terakumulasi dan lingkungan di dalamnya berubah, hal itu dapat menguntungkan kelompok bakteri tertentu. Pada gigi berlubang, konsumsi gula yang terlalu sering dapat membuat bakteri menghasilkan asam secara berulang, sehingga lingkungan rongga mulut menjadi semakin asam dan menyebabkan demineralisasi enamel hingga akhirnya terbentuk karies. Perubahan komunitas bakteri di sekitar garis gusi juga dapat memicu respons inflamasi tubuh sehingga menimbulkan radang gusi, baik itu gingivitis hingga periodontitis. Selain itu, masalah bau mulut pun berkaitan dengan aktivitas bakteri yang memecah berbagai substrat di rongga mulut dan menghasilkan senyawa sulfur volatil yang memiliki aroma tidak sedap.

Agar terhindar dari masalah-masalah tersebut, Dr. drg. A. Tajrin, M.Kes., Sp.B.M.M., Subsp.C.O.M(K), Ketua Asosiasi Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Indonesia (ARSGMPI) menjelaskan, “Menjaga keseimbangan microbiome mulut dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan gigi dan mulut melalui perawatan yang tepat, membatasi konsumsi gula, memperbanyak makanan bergizi dan kaya serat serta mencukupi kebutuhan cairan untuk mendukung produksi dan fungsi air liur sebagai pertahanan alami rongga mulut, menghindari rokok, mengelola stres dan mencukupi waktu tidur. Tidak kalah penting, rutin konsultasi ke dokter gigi setidaknya enam bulan sekali agar berbagai permasalahan yang dapat mengganggu keseimbangan microbiome mulut dapat dideteksi dan ditangani sejak dini.”

Untuk menyebarluaskan pemahaman ini, BKGN 2026 dengan tema “Gigi Kuat, Senyum Sehat, Indonesia Hebat – Perlindungan Mulut 24/7 untuk Masa Depan Senyum Indonesia” menghadirkan rangkaian edukasi serta pelayanan kesehatan gigi dan mulut gratis. Bekerja sama dengan AFDOKGI dan ARSGMPI, BKGN 2026 akan dilaksanakan di 29 FKG dan RSGMP di berbagai wilayah Indonesia sehingga masyarakat menjadi lebih dekat dengan akses pelayanan tenaga profesional. Bersama PB PDGI, BKGN 2026 juga akan memberikan edukasi yang berfokus di enam kota/kabupaten di Jawa Barat serta sejumlah daerah yang terdampak bencana, yaitu Nusa Tenggara Timur dan Papua.

drg. Tari Tritarayati, SH., MH.Kes, Wakil Ketua Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PB PDGI) menerangkan, “Jawa Barat menjadi salah satu prioritas karena selain memiliki populasi penduduk tertinggi di Indonesia, masyarakatnya masih menghadapi berbagai tantangan kesehatan gigi dan mulut. Data menunjukkan, 63,4% masyarakat Jawa Barat mengalami permasalahan gigi dan mulut, dan 89,9% dari mereka tidak pernah mengunjungi dokter gigi selama satu tahun terakhir. Sementara di NTT dan Papua, angkanya juga cukup tinggi. 55,6% masyarakat NTT dan 49,4% masyarakat Papua masih mengalami permasalahan gigi dan mulut. Apalagi, tercatat 95,3% masyarakat NTT dan 96% masyarakat Papua tidak pernah berkunjung ke dokter gigi selama setahun terakhir . Hal ini disebabkan oleh akses geografis, jauhnya jarak tempat tinggal dengan puskesmas/klinik/dokter gigi, terutama di daerah kepulauan, pegunungan, dan wilayah terpencil. Selain transportasi dan waktu tempuh menjadi hambatan, faktor ketersediaan dokter gigi juga belum merata. Untuk itu, dibutuhkan perhatian dan edukasi yang lebih berkelanjutan.”

Di setiap titik pelaksanaannya, BKGN 2026 semakin memperluas akses edukasi dan pelayanan dengan menjangkau pesantren dan komunitas ibu sebagai penggerak kebiasaan baik di lingkungannya masing-masing. Dengan demikian, BKGN 2026 tidak berhenti pada pemberian pelayanan kesehatan gigi dan mulut saja, tetapi juga mendorong tindakan preventif, yaitu menjaga keseimbangan microbiome mulut melalui perawatan yang tepat.

Sebagai langkah awal, pada peresmian BKGN 2026 hari ini sebanyak 384 siswa SDN Menteng 01 telah mengikuti kegiatan edukasi serta mendapatkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut dari para tenaga medis gigi dari Mulia Health and Dental Care sebagai jaringan klinik kesehatan keluarga dan gigi terkemuka di Indonesia.

Kemudian, Armand Maulana dan Gusti Hendy selaku personil band GIGI yang turut hadir di tengah acara ikut berbagi, “Selama ini kita diajarkan untuk ‘musuhan’ dengan bakteri, jadi kami berpikir bahwa semakin bebas bakteri berarti kita semakin sehat. Ternyata bakteri itu ada jenis-jenisnya dan kalau semuanya dihilangkan, kita justru bisa kehilangan dukungan bakteri baik yang membantu menjaga kesehatan gigi dan mulut. Buat kami edukasi ini penting banget, bukan cuma fokus pada gigi bersih, napas segar dan bebas sakit, ternyata ada keseimbangan microbiome mulut yang juga perlu kita perhatikan. Senang sekali tahun ini GIGI bisa kolaborasi bareng Pepsodent lagi di BKGN 2026. Semua ilmu baru ini akan kami sebarkan ke banyak orang lewat performance kami di beberapa kegiatan BKGN nanti!”

Setelah masyarakat mendapatkan edukasi serta pelayanan kesehatan gigi dan mulut melalui BKGN 2026, langkah berikutnya adalah memastikan keseimbangan gigi dan mulut dapat terus dijaga secara berkesinambungan melalui perawatan sehari-hari di rumah. Untuk itu, sejalan dengan fokus edukasi BKGN 2026 mengenai microbiome mulut, Pepsodent menghadirkan Pepsodent Pro.Care, pasta gigi pertama dari Pepsodent dengan teknologi Microbiome Active yang telah dikembangkan selama bertahun-tahun oleh para ilmuwan dari berbagai belahan dunia.

Teknologi ini memanfaatkan One Trillion Active Ions untuk menekan pertumbuhan bakteri yang merugikan sekaligus mendukung pertumbuhan bakteri baik agar keseimbangan microbiome mulut tetap terjaga. Melalui mekanisme yang menyerupai cara kerja prebiotik, teknologi ini mampu memperkuat pertahanan alami rongga mulut sehingga membantu memberikan perlindungan ekstra pada kesehatan gigi dan mulut secara lebih menyeluruh. Teknologi Microbiome Active telah teruji secara klinis dan dirancang untuk memberikan perlindungan hingga 24 jam.

“Kami harap seluruh rangkaian kegiatan BKGN 2026 dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya keseimbangan microbiome mulut, yang kemudian bertransformasi menjadi rutinitas menyikat gigi sehari-hari yang mampu memberikan perlindungan ekstra bagi senyum keluarga Indonesia,” tutup drg. Mirah.

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *