GANLOP.COM – Kasus gangguan neurologi dan bedah saraf di Indonesia, seperti tumor otak, kelainan pembuluh darah otak, dan gangguan saraf lainnya, terus meningkat dan membutuhkan penanganan yang presisi serta terintegrasi. Tumor otak dapat berasal langsung dari jaringan otak (tumor primer) atau dari penyebaran kanker di bagian tubuh lain (metastasis). Sekitar 15–30% kasus tumor otak merupakan metastasis, yang umumnya berasal dari kanker paru-paru, payudara, dan ginjal.
Namun, akses terhadap teknologi penanganan modern yang minim invasif masih terbatas, sehingga tidak sedikit pasien yang harus mencari layanan ke luar negeri. Maka dari itu, kehadiran teknologi penanganan modern yang minim invasif di Indonesia sangat dibutuhkan agar semakin banyak masyarakat atau pasien yang dapat terlayani tanpa harus ke luar negeri.

Dalam upaya memperluas akses terhadap layanan ini, Siloam International Hospitals melalui Siloam Hospitals Lippo Village menjalin kemitraan strategis dengan PT Gamma Knife Centre Indonesia (GKCI) dan Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono (RSPON) melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) yang dilakukan di RSPON.
Kerja sama ini akan dijalankan melalui sistem rujukan yang terkoordinasi, di mana Siloam bekerjasama dengan RSPON berperan sebagai pusat rujukan nasional yang melakukan evaluasi dan rujukan pasien. Dalam pelaksanaannya, Siloam melalui Siloam Hospitals Lippo Village memberikan dukungan layanan terpadu yang mencakup aspek administrasi hingga observasi pasien. Sementara itu, GKCI berperan sebagai penyedia layanan Gamma Knife Surgery dengan dukungan teknologi radiosurgery. Melalui kolaborasi ini, pasien diharapkan dapat memperoleh alur perawatan yang lebih terintegrasi, mulai dari konsultasi, tindakan, hingga pemantauan pascatindakan.
Selain layanan klinis, kolaborasi ini juga mencakup kegiatan ilmiah seperti seminar, workshop, dan program edukasi sebagai bagian dari upaya pengembangan kapasitas tenaga medis di Indonesia. Sebagai pusat layanan Gamma Knife pertama di Indonesia yang telah beroperasi sejak 2013, serta satu-satunya fasilitas radiosurgery di rumah sakit swasta di Indonesia, GKCI melihat kemitraan ini sebagai langkah penting dalam menjawab kebutuhan layanan neurologi yang semakin kompleks di Indonesia.
“Dengan meningkatnya kebutuhan penanganan kasus saraf yang memerlukan presisi tinggi, kolaborasi ini diharapkan dapat memperluas akses pasien terhadap Gamma Knife Surgery dengan alur layanan yang lebih terintegrasi bersama Siloam dan RSPON sebagai pusat rujukan nasional dan Siloam sebagai penyedia layanan kesehatan. Hal ini juga menjadi upaya untuk mengurangi kebutuhan pasien mencari pengobatan ke luar negeri,” ujar Albern Kusuma, Direktur PT Gamma Knife Centre Indonesia (GKCI).
RSPON menyambut baik kolaborasi ini sebagai bagian dari penguatan sistem rujukan nasional, khususnya dalam layanan neurologi dan bedah saraf. “Sebagai pusat rujuk nasional baik RSPON maupun Siloam, melihat bahwa kebutuhan akan teknologi radiosurgery yang semakin meningkat dalam penanganan kasus saraf. Melalui kerja sama ini, pasien dapat memperoleh akses ke layanan tersebut dengan tetap menjaga kesinambungan perawatan di Siloam dan RSPON, sehingga proses penanganan menjadi lebih terkoordinasi dan efektif,” ujar dr. Adin Nulkhasanah, Sp.S, MARS Direktur Utama Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono (RSPON).
Siloam International Hospitals menambahkan bahwa kolaborasi ini merupakan bagian dari komitmen untuk menghadirkan layanan kesehatan yang lebih terintegrasi dan mudah diakses oleh masyarakat. “Kolaborasi strategis bersama GKCI dan RSPON ini menjadi langkah penting bagi Siloam dalam memperkuat kemampuan klinis, khususnya dalam penanganan kasus neurologi dan bedah saraf yang membutuhkan tata laksana terpadu. Melalui kerja sama ini, kami ingin terus mempertegas peran Siloam sebagai bagian dari jaringan layanan rujukan nasional yang mampu menghadirkan layanan kesehatan berkualitas tanpa harus pergi ke luar negeri,” ujar David Utama, Presiden Direktur Siloam International Hospitals.
“Melalui sinergi ini, pasien diharapkan dapat memperoleh akses yang lebih cepat, tepat, dan terkoordinasi terhadap penanganan kasus saraf dengan teknologi radiosurgery tanpa harus mencari layanan ke luar negeri.” tutup David Utama.






Comment