JAKARTA, GANLOP.COM – Dua tahun setelah memulai perjalanan kreatif di dunia mode, Ayu Dyah Andari, desainer busana jenama Ayu Dyah Andari (ADA) berhijrah merancang busana modest dan mengukuhkan dirinya untuk terus menetap di jalur desain pilihannya itu hingga 15 tahun kemudian.
Desain boleh berevolusi, namun citra tetap; elegan, feminin, dan penuh detail yang membutuhkan ketelitian dalam menangani rancangannya. Ini memikat banyak wanita yang gemar berpenampilan mewah, grande dan ultra premium.

Kemampuan ADA dalam menawarkan kebaruan dalam tiap koleksinya menjadi alasan penggemar busana modest memburu koleksi ADA. Jadi, meski beraroma klasik dan timeless, embusan kebaruan selalu terasa.
Selain rupa baru ADA juga mampu menggiring selera masyarakat melalui keindahan pada tiap busana karena piawai mengolah detail dalam presisi, seraya mengasah kehalusan rasa para peminat dan pencinta karyanya.
Alasan lain, konsistensi ADA dalam menggelar karya terbaik dalam peragaan tunggal maupun bersama, telah membawa dan mensejajarkan posisi ADA dengan desainer-desainer papan atas, serta para senior busana modest di Nusantara.
Koleksi busana ADA dapat dinikmati dan diperoleh di Butik Ayu Dyah Andari, di Pondok Indah Mall 2, Jakarta, dan di Kota Kasablanka, Jakarta.

15 Tahun Berkarya
Berkiprah di dunia mode yang penuh dinamika dan pasang surut bukanlah perkara mudah, namun ADA mampu menanganinya, bahkan kini ia berdiri bersejajar bersama para penentu mode Indonesia di garis depan.
Merayakan 15 tahun berada di dunia fashion, ADA mempersembahkan rangkaian pergelaran karya dalam koleksi yang diberi tajuk PUSPA. Sebuah Art Installation and Private Collection yang digelar selama dua hari, pada 7 dan 8 Mei 2026, di Le Nusa, Jakarta Selatan.

Puspa terinspirasi dari keragaman bunga di Indonesia yang dipilih dengan representasi citra yang ada di baliknya. Rafflesia yang mengusung kesan penuh wibawa, dalam garis desain yang kokoh dan tegas, Melati mewakili kelembutan dengan siluet yang flowy, ringan, serta Anggrek yang menggambarkan keanggunan penuh karisma dalam garis rancangan yang berselera keningratan.

Bunga-bunga itu diciptakan dalam aneka teknik bordir dan payet yang bersanding selaras dengan mawar-mawar yang menjadi ciri dan identitas detail dari rancangan ADA, baik dalam koleksi high-fashion maupun busana ready-to-wear yang dipamerkan.
Jika ragam bunga dibuat di atas bahan beraneka warna yang delicate dalam deret busana couture, maka bunga-bunga dijadikan aplikasi dalam busana prêt-à-porter di atas denim biru dan hitam.

Ayu Dyah Andari sebagai pemilik jenama sekaligus perancang utama ADA berujar, “Saya mendedikasikan Puspa sebagai karya dengan embusan retrospektif yang dihadirkan kembali dari perjalanan berkarya selama 15 tahun ini bagi seluruh wanita Indonesia. Khusus kepada mereka yang berpeluh penuh pada profesinya. Untuk semua para wanita tangguh, namun lembut serta berani mengambil langkah penuh aspirasi. Masing-masing busana dengan garis siluet yang sesuai dengan representasinya.”
Mengiringi keindahan ketiga bunga dari Tanah Air, siluet dan elemen keindonesiaan ditambahkan untuk menyempurnakan koleksi seperti siluet kebaya, kain panjang, beskap, bahkan juga motif ukiran Jepara dengan detail yang halus dan rumit.

Persandingan yang kompleks sekaligus indah itu lahir dari tangantangan ahli di belakang layar rumah produksi ADA. Warna yang kaya ragam hadir mulai dari warna yang ringan seperti butter cream, dusty pink, teal blue hingga warna yang dalam seperti deep brown, maroon, greyish blue.
Perhelatan kali ini juga merayakan peluncuran seri tas terbaru sebagai pelengkap busana koleksi Puspa. Yang membanggakan tas-tas yang dibuat dari kulit sapi itu lahir dari tangan-tangan anak negeri.

Meski berbahan dasar produk lokal, di tangan ahli dengan craftmanship yang mumpuni, hasilnya akan mampu bersaing dalam bentuk dan kualitas dengan produksi luar negeri.
Dalam citra Rafflesia, Melati, dan Anggrek yang diusungnya, seri tas hadir dalam lima warna, marun yang mengutip keteduhan Rafflesia, putih nan berselaras dengan melati dan anggrek bulan, hijau yang berkorelasi dengan dedaunan, coklat selaksa tanah di mana bumi dipijak, serta hitam yang mengusung jagatnata, menjadi bukti kearifan produk lokal berkualitas premium. Cynthia Ganesha (istri dari Wakil Menteri Kebudayaan), menjadi muse ADA saat desain tas diciptakan.
Warisan budaya serba Indonesia yang kaya itu dihadirkan dengan selera masa kini yang kental dalam DNA Ayu Dyah Andari.
Peraga busana ikut mempertunjukkan koleksi agar peminat mode mendapat gambaran nyata ketika rancangan dikenakan, sebelum akhirnya dijajarkan sebagai kesatuan 27 koleksi utuh yang dipamerkan; 13 koleksi adi busana dan 14 koleksi siap pakai.
Ayu berharap perjalanan penciptaan ADA dapat mengilhami masyarakat untuk tetap setia pada jalur profesi yang dipilih berbalut busana yang mengidentitaskan pemakainya.






Comment