JAKARTA, GANLOP.COM – Memperingati Safer Internet Day (SID) 2026 di bulan Februari ini, Yayasan Semai Jiwa Amini (SEJIWA) menyelenggarakan Peringatan Safer Internet Day 2026 dengan tema “Bangun Resiliensi Digital, Wujudkan Ruang Aman dari Kekerasan Luring dan Daring.” Kegiatan ini menjadi momentum reflektif sekaligus ajakan kolaboratif lintas sektor untuk memperkuat perlindungan anak di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
Peringatan SID 2026 diselenggarakan sebagai respons atas meningkatnya risiko kekerasan dan eksploitasi seksual terhadap anak, baik di ruang digital maupun luring. Perkembangan teknologi yang semakin cepat telah menghadirkan peluang besar bagi pendidikan dan partisipasi anak, namun pada saat yang sama juga membuka celah kerentanan baru.

Oleh karena itu, penguatan resiliensi digital—yakni kemampuan anak, keluarga, dan komunitas untuk mengenali risiko, melindungi diri, serta pulih dari dampak kekerasan—menjadi kebutuhan yang mendesak.
Kegiatan ini melibatkan pemangku kepentingan lintas sektor, mulai dari perwakilan pemerintah pusat dan daerah, organisasi internasional, organisasi masyarakat sipil, akademisi, media massa, platform digital, hingga komunitas anak dan orang muda sebagai subjek utama dalam upaya perlindungan digital. Sekitar 200 peserta hadir, dengan 50 persen di antaranya merupakan anak dan orang muda berusia 16–24 tahun, menegaskan komitmen SEJIWA untuk menempatkan suara anak dan remaja sebagai bagian integral dari solusi.
Selebrasi Penutupan Proyek SUFASEC
Peringatan Safer Internet Day 2026 ini sekaligus menjadi selebrasi penutupan Proyek SUFASEC (Stepping up the Fight Against Sexual Exploitation of Children Online & Offline), sebuah inisiatif tiga tahun yang berfokus pada peningkatan upaya pencegahan dan penanganan eksploitasi seksual anak, baik di ranah daring maupun luring. Proyek ini dilaksanakan di 12 negara dan didanai oleh Pemerintah Belanda melalui aliansi internasional Down to Zero, dengan dukungan jaringan regional Child Rights Coalition Asia (CRC Asia).

Sejak bergabung dengan CRC Asia pada 2008, SEJIWA aktif berkontribusi dalam penguatan perlindungan anak di tingkat nasional dan regional. Melalui SUFASEC, SEJIWA membangun kapasitas 19 Sejiwa Muda dan 18 pendamping dewasa di wilayah-wilayah rentan, seperti Jakarta Utara—Penjaringan, Muara Angke, dan Kampung Muara—serta wilayah tertentu di Jakarta Selatan. Pendekatan berbasis komunitas ini menekankan pencegahan, deteksi dini, pendampingan, dan rujukan yang tepat bagi korban.
Suara SEJIWA: Perlindungan Berbasis Komunitas
Dalam sambutannya, Diena Haryana, Founder SEJIWA, menegaskan bahwa Safer Internet Day bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan pengingat akan tanggung jawab bersama untuk melindungi anak.
“Safer Internet Day bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan pengingat bahwa perlindungan anak di ruang digital adalah tanggung jawab bersama. Melalui penguatan resiliensi digital dan pendekatan berbasis komunitas, kami ingin memastikan anak-anak tidak hanya terlindungi, tetapi juga berdaya dan berani bersuara,” ujar Diena.

Ia menambahkan bahwa hasil Proyek SUFASEC menunjukkan besarnya potensi anak dan orang muda sebagai agen perubahan. “Proyek SUFASEC membuktikan bahwa ketika anak dan orang muda dibekali pengetahuan, keterampilan, dan dukungan yang tepat, mereka mampu menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing, baik di ruang digital maupun luring.”
Pada momentum ini, SEJIWA juga meluncurkan Ruang Aman SEJIWA, yakni ruang berbasis komunitas yang hadir di empat area sebagai tempat berbagi, pendampingan awal, dan dukungan bagi korban. Para penggerak Ruang Aman bukan konselor atau tenaga medis, namun aktivis komunitas yang telah dilatih untuk memberikan dukungan awal, rujukan yang tepat, serta terhubung dengan helpline SEJIWA.
Dukungan Pemerintah: Kolaborasi Lintas Generasi
Komitmen pemerintah dalam memperkuat perlindungan anak di era digital disampaikan melalui Keynote Speech oleh Woro Srihadtuti Sulistyaningrum, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK).
“Anak dan orang muda bukan bagian dari masalah, melainkan bagian dari solusi. Membangun ruang digital yang aman membutuhkan kolaborasi lintas generasi dan lintas sektor, dengan menempatkan suara anak sebagai bagian penting dalam kebijakan,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa ruang aman digital harus dibangun secara sistemik. “Ruang aman digital harus melahirkan anak yang berdaya, orang dewasa yang paham, komunitas yang peduli, dan sistem yang bertanggung jawab. Pemerintah akan terus berjalan bersama anak- anak muda di samping mereka.”
Perspektif Anak dan Orang Muda: Dari Edukasi hingga Aksi
Sesi talkshow menghadirkan suara autentik dari Sejiwa Muda. Iva, peserta Proyek SUFASEC, berbagi pengalaman penguatan kapasitas selama tiga tahun.
“Melalui Proyek SUFASEC, saya belajar untuk lebih menghargai diri sendiri, memahami batasan pribadi, dan berani membantu teman sebaya yang menghadapi risiko kekerasan, baik di ruang digital maupun di kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pembelajaran tentang empati dan kebersamaan lintas latar belakang. “Pengalaman terjun langsung ke komunitas membuat saya sadar bahwa perbedaan latar belakang bukan penghalang untuk saling peduli. Justru dari situ kami belajar untuk saling menguatkan.”
Sementara itu, Kayla menegaskan pentingnya edukasi komprehensif sejak dini. “Edukasi tentang eksploitasi dan kekerasan seksual harus diberikan sejak dini, karena banyak kasus justru berawal dari relasi yang dianggap aman. Anak dan orang muda perlu dibekali pemahaman agar mampu mengenali risiko dan melindungi diri.”
Menurutnya, isu ini bersifat struktural dan membutuhkan keterlibatan semua pihak. “Ini bukan hanya soal pengetahuan, tetapi tentang menyelamatkan masa depan, memutus rantai kekerasan, dan membangun lingkungan yang aman serta suportif bagi semua.”
Pengalaman lapangan juga disampaikan oleh Agam, Champion Proyek SUFASEC. “Ilmu dan pengalaman yang saya dapatkan dari SUFASEC tidak saya simpan sendiri. Saya merasa bertanggung jawab untuk membagikannya kepada komunitas, terutama di wilayah yang rentan terhadap eksploitasi.”
Ia menambahkan bahwa ruang partisipasi anak adalah kunci perubahan. “Di Sejiwa, suara anak benar-benar didengar. Kami diberi ruang untuk berbicara dan terlibat dalam perubahan, dan itu memberi kami keberanian untuk menjadi pelopor di lingkungan masing-masing.”
Literasi Digital dan Regulasi Perlindungan Anak
Penguatan literasi digital dan kerangka regulasi dijelaskan oleh Rizki Ameliah, Kepala Pusat Pengembangan Literasi Digital BPSDM Kementerian Komunikasi dan Digital.
“Regulasi tidak dibuat untuk melarang anak menggunakan teknologi, tetapi untuk memastikan platform digital bertanggung jawab dan orang tua mampu mendampingi anak secara optimal di ruang digital,” jelasnya.
Ia menegaskan pentingnya peran keluarga.“Literasi digital harus dimulai dari keluarga. Orang tua perlu lebih cakap digital agar dapat melindungi, membimbing, dan mendukung anak- anaknya memanfaatkan teknologi secara aman dan positif.”
Pandangan tersebut dikuatkan oleh Indra Gunawan, Plt. Deputi Perlindungan Khusus Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA).
“Pendekatan sebaya yang dilakukan oleh Sejiwa Muda sangat efektif. Pesan perlindungan anak akan lebih mudah diterima ketika disampaikan oleh sesama anak dan remaja dengan bahasa yang dekat dengan keseharian mereka.”
Ia menekankan bahwa perlindungan anak membutuhkan kerja bersama.“Perlindungan anak di ruang digital tidak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah agar anak-anak Indonesia benar-benar terlindungi.”
Film “PRABA” dan Partisipasi Anak
Rangkaian kegiatan juga diisi dengan peluncuran film pendek PRABA, hasil kolaborasi anak dan komunitas dalam kerangka SUFASEC. Koordinator SUFASEC CRC Asia, Jasmin Arabe, menilai film ini sebagai refleksi penting partisipasi anak.
“Film PRABA menunjukkan betapa pentingnya partisipasi anak dalam menyuarakan pengalaman dan solusi terkait kekerasan seksual. Anak bukan hanya korban, tetapi juga aktor perubahan.”
Ia juga menekankan pentingnya jalur perlindungan yang bermartabat.“Pendekatan yang menekankan jalur pelaporan formal dan dukungan komunitas yang aman adalah kunci untuk memastikan penyintas mendapatkan perlindungan yang bermartabat.”
Melalui Peringatan Safer Internet Day 2026, SEJIWA mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat ekosistem perlindungan anak berbasis kolaborasi, partisipasi anak, dan resiliensi digital. Upaya ini mencakup pencegahan, penanganan, pemulihan, serta keberlanjutan melalui Ruang Aman SEJIWA dan jejaring komunitas.
SEJIWA percaya bahwa dengan kerja bersama—pemerintah, masyarakat sipil, platform digital, keluarga, dan generasi muda—Indonesia dapat mewujudkan ruang digital yang aman, inklusif, dan berkeadilan bagi anak, menuju Indonesia Emas yang berdaya dan berketahanan.






Comment